Jangan Remehkan Anemia pada Anak

Anemia tidak bisa dianggap enteng, dampaknya bisa serius, mulai dari kecerdasan anak menurun, mudah infeksi, hingga gangguan mental. Anemia, yang biasa disebut kalangan awam dengan penyakit kurang darah merupakan kondisi di mana tingkat hemoglobin yang rendah karena kurangnya zat besi.

Menurut kriteria Badan Kesehatan Dunia (WHO), seseorang sudah mengalami anemia bila kadar Hb kurang dari 11 g/dl pada usia kurang dari enam tahun dan kadar Hb kurang dari 12 g/dl pada usia lebih dari enam tahun.

Ada beberapa penyebab timbulnya anemia gizi besi. Menurut Direktur Bina Kesehatan Anak Departemen Kesehatan, Rachmi Untoro, penyebab langsung timbulnya anemia adalah asupan makanan yang tidak cukup dan infeksi penyakit seperti cacingan dan malaria. “Penyebab tidak langsung adalah ketimpangan gender, sehingga tidak ada ketersediaan pangan keluarga untuk ibu dan anak,” katanya.

Sementara itu dokter spesialis anak Djajadiman Gatot dari Divisi Hematologi Onkologi, Ilmu Kesehatan Anak FKUI, menyebutkan berkurangnya produksi sel darah merah karena kurang zat besi, asam folat dan vit B12, perdarahan dan penghancuran sel darah merah (hemolisis) sebagai penyebab terbanyak terjadinya anemia pada anak.

Tanda Anemia

Gejala anemia yang mudah terlihat antara lain lemah, lesu, lunglai, letih, muka pucat, kurang bergairah, mata berkunang-kunang, daya tahan tubuh menurun dan keringat dingin.

Siapa saja yang rawan anemia? Anak-anak dalam masa pertumbuhan, perempuan hamil dan menstruasi, orang yang bekerja, serta orang yang melakukan diet. Anemia juga bisa terjadi pada bayi. Bila ini terjadi, maka anak akan mengalami gangguan tumbuh kembang.

“Bayi yang mengalami anemia umumnya lebih rewel, susah makan, kulit pucat, suhu tubuh kadang-kadang dingin dan daya tahan tubuh menurun yang ditandai dengan gampang jatuh sakit dibandingkan dengan anak sebayanya,” papar dokter spesialis anak, Atilla Dewanti, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita.

Kecerdasan Menurun

Menteri Kesehatan, Dr. Siti Fadilah Supari, dalam pembukaan Kampanye Anti Anemia beberapa waktu lalu mengungkapkan tingginya penderita anemia pada anak. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, prevalensi anemia gizi besi pada usia balita sebesar 47 persen. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma Buana dari 3000 anak usia sekolah yang diperiksa, hampir separuhnya menderita anemia. “Hal itu berarti satu dari dua anak usia sekolah menderita anemia,” katanya.

Diungkapkan oleh dokter spesialis anak Soedjatmiko, Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), berdasarkan survei anemia terhadap 55 bayi berusia 4-12 bulan di Kecamatan Matraman, Jakarta, tahun 2004, sebanyak 38 persen mengalami anemia dan 73 persen mengalami kekurangan zat besi.

Ditambahkan oleh Soedjatmiko, anemia berdampak buruk pada otak, antara lain transfer oksigen terhambat, kecepatan hantar impuls syaraf terganggu, serta gangguan perilaku dan konsentrasi.

Jika anemia terjadi pada bayi, dampaknya bisa terlihat saat anak memasuki usia pra sekolah dan usia sekolah. Anak akan mengalami gangguan konsentrasi, daya ingat rendah, kemampuan memecahkan masalah rendah, gangguan perilaku, dan tingkat IQ yang lebih rendah. Akibatnya adalah penurunan prestasi belajar dan kemampuan fisik anak.

“Anak usia sekolah mencapai 30 persen dari 217 juta penduduk Indonesia. Mereka diharapkan menjadi generasi penerus yang berkualitas. Tapi bagaimana jadinya jika anak sekolah tersebut banyak menderita anemia?” ujar MenKes Siti Fadilah Supari.

Bebas Anemia

Pemberian gizi yang cukup merupakan faktor utama dalam penanganan anak anemia. Pemberian preparat besi juga bisa dilakukan, namun sebaiknya dimulai sejak anak berusia enam bulan sampai tiga tahun. “Anak usia sekolah yang kecerdasannya rendah karena kurang zat besi bila diberikan tambahan zat besi tidak banyak manfaatnya,” kata Soedjatmiko.

Untuk menjamin perkembangan otak dan kecerdasan anak yang optimal, Soedjatmiko menyarankan agar bayi dan balita mulai umur enam bulan rutin diperiksa kadar zat besinya. “Bila kurang berikan tambahan zat besi dan perbaikan makanan. ASI tetap diteruskan sampai usia dua tahun,” paparnya.

Senada dengan Soedjatmiko, menurut Atila, penanganan anemia pada bayi bisa dilakukan dengan meningkatkan pemberian ASI ekslusif. “Sebaiknya tunda pemakaian susu sapi sampai bayi berusia setahun. Beri makanan bayi dan susu formula yang mengandung besi dan makanan yang kaya asam askorbat seperti jus buah,” jelas Atila.

Sementara itu untuk mencegah kekurangan zat besi pada bayi, sebaiknya ibu hamil dan calon ibu (remaja puteri) juga memeriksa kadar zat besinya. “Untuk ibu hamil sebaiknya diberikan tablet zat besi agar kebutuhan zat besi untuk janin tercukupi, terutama perkembangan otak dan darah,” kata Soedjatmiko.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah perilaku hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan cuci tangan dengan sabun, imunisasi dasar balita, memantau berat badan bayi secara teratur serta membiasakan anak mengonsumsi sayuran hijau dan mengandung zat besi.

Khusus untuk anak sekolah, MenKes menyarankan agar penganggulangan anemia dilakukan melalui program Usaha Kesehatan Sekolah yang melibatkan murid, guru, orangtua hingga penjual makanan.

~ by Dr Heru Noviat Herdata SpA on 20/09/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: