Tata Laksana Muntah Bagi Anak yang Menjalani Kemoterapi

Muntah merupakan salah satu efek samping yang  sering dikeluhkan oleh anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi. Menurut sebuah sumber memang dikatakan bahwa dari sekian banyak penyebab muntah pada anak, kemoterapi merupakan salah satu diantaranya.

Bersamaan dengan semakin pesatnya perkembangan obat-obatan anti muntah, penderitaan anak-anak ini berangsur-angsur mulai dapat dikurangi. Penanganan muntah pada anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi memang agak berbeda dengan penanganan muntah pada umumnya. Prinsip yang digunakan adalah prinsip yang dikembangkan oleh para ahli yang bergerak di bidang paliatif, yaitu memberikan obat anti muntah justru sebelum muntah itu terjadi.

Hal ini dilakukan agar anak-anak tersebut tidak sampai harus merasakan bagaimana tidak enaknya muntah saat dikemoterapi, yang tentunya dapat berpengaruh terhadap kelanjutan dari pengobatan anak-anak tersebut dikemudian hari.

PATOFISIOLOGI

Secara sederhana, muntah adalah keluarnya kembali isi lambung melalui mulut. Namun, jika memperhatikan bagaimana proses muntah itu terjadi, ternyata tidak sesederhana itu.

Muntah dikoordinasi oleh pusat muntah di formasio reticularis medulla oblongata. Reseptor muntah terutama terdapat di dasar ventrikel ke empat otak dan disebut sebagai chemoreceptor trigger zone yang terletak di luar sawar darah otak. Sumber yang dapat menjadi input ke pusat muntah antara lain:

– Chemoreceptor trigger zone yang mengandung reseptor dopamine D2, reseptor serotonin 5-HT3, reseptor opioid, reseptor asetilkolin, dan reseptor substansi P. Stimulasi dari reseptor yang berbeda tersebut dapat merangsang pusat muntah melalui jalan yang berbeda.

– Sistem vestibular yang memberikan sinyal ke otak melalui saraf otak ke-VIII (vestibulocochlearis). Sistem ini berperan pada gejala muntah yang disebabkan oleh mabuk perjalanan (motion sickness) dan berkaitan dengan reseptor muskarinik dan reseptor histamin H1.

– Saraf otak ke-X (vagus) diaktifasi bila daerah faring terangsang sehingga menimbulkan refleks muntah.

– Sistem saraf usus dan vagus merupakan input dari sistem gastrointestinal. Iritasi dari mukosa gastrointestinal. Iritasi dari mukosa gastrointestinal karena kemoterapi, radiasi, distensi usus, dan gastroenteritis dapat mengaktivasi reseptor 5-HT3 melalui jalur ini.

– Susunan saraf pusat mempunyai peran pada muntah yang berkaitan dengan gangguan psikiatrik dan stres.

Pada anak-anak penderita kanker, obat-obat kemoterapi menyebabkan sel-sel di usus melepaskan serotonin yang kemudian sensasi ini diteruskan dan mengaktivasi pusat muntah di otak, yaitu di medula oblongata. Akhir dari proses yang kompleks ini ditandai dengan filorus yang mengalami relaksasi, yang memungkinkan isi duodenum dan proksimal yeyunum bergerak menuju lambung akibat gerakan peristaltik yang kuat untuk kemudian terjadi regurgitasi isi lambung melalui esofagus dan farings.

PEMBAGIAN OBAT KEMOTERAPI

Sebelum menentukan obat anti muntah yang akan digunakan, penting untuk mengetahui obat kemoterapi yang digunakan termasuk dalam kelompok yang mana menurut kemampuannya dalam menimbulkan muntah. Obat-obat kemoterapi, menurut kemampuannya dalam menimbulkan muntah, dibagi atas 3 kelompok, yaitu ringan, sedang, dan berat. Disebut ringan bila kurang dari 10% pasien yang mendapat obat kemoterapi tertentu mengalami muntah, sedang bila 50% pasien yang mendapat obat kemoterapi tertentu mengalami muntah, dan berat bila semua pasien yang mendapat obat kemoterapi tertentu mengalami muntah.

Berikut ini adalah pembagian obat kemoterapi menurut kemampuannya dalam menimbulkan muntah.

Tabel 1. Obat kemoterapi menurut kemampuannya dalam menimbulkan muntah

Ringan  :

Bleomycin
Busulfan oral
Steroid
Fludarabine
Hydroxyurea
Interferon
Melfalan (Oral)
Mercaptopurine
Methotrexate < 1 g/m2
Thioguanine
Vinblastine
Vincristine

Sedang  :

Asparaginase
Cytarabine < 1 g/m2
Etoposide
Fluoracil < 1000 mg/m2
Gemcitabine
Methotrexate > 1 g/m2
Thiotepa
Topotecan
Cyclofosfamide < 750 mg/m2
Epirubicin
Idarubicin
Mitoxantrone < 15 mg/m2

Berat    :

Carboplatin
Carmustine
Cisplatin
Cyclofosfamide > 750 mg/m2
Cytarabine > 1 g/m2
Actinomycin
Doxorubicin
Irinotecan
Melfalan (IV)
Methotrexate > 2 g/m2
Mitoxantrone > 15 mg/m2
Procarbazine

PEMILIHAN OBAT ANTI MUNTAH

Setelah ditentukan termasuk dalam kelompok mana obat kemoterapi yang digunakan, selanjutnya adalah pemilihan obat anti muntah yang sesuai. Mengenai pilihan obat anti muntah berikut dosisnya dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Obat anti muntah

Kelompok obat kemoterapi                Obat anti muntah                            Dosis

Ringan                                              Tidak diperlukan
atau Domperidone (oral)               0,3 mg/kg 4x/hari
atau Promethazine (oral)               0,5 mg/kg 4x/hari

Sedang                                             Ondansetron (IV)                           0,15 mg/kg 3x/hari
(IV kontinu)                                   0,45 mg/kg/hari
(maks 24-32 mg/hr)
(oral)                                           4-8 mg 2-3x/hari

atau Granisetron (IV)                   10-20mcg/kg2-3x/hr
(oral)                        1 mg 2x/hari
atau Dexamethasone(oral)            5 mg/m2 3x/hari

Berat                                               Ondansetron/Granisetron              Sama dgn di atas
dan Dexamethasone                     Sama dgn di atas

Obat-obatan anti muntah yang tersebut di atas harus diberikan 30 menit sebelum pemberian pertama obat kemoterapi dan dilanjutkan hingga obat kemoterapi selesai diberikan. Bagi pasien yang menggunakan obat kemoterapi yang termasuk dalam kelompok yang berat dalam menimbulkan muntah, dianjurkan agar ondansetron dilanjutkan hingga 3 hari setelah penghentian pemberian obat kemoterapi guna mengantisipasi muntah yang bisa timbul justru satu hari setelah obat kemoterapi dihentikan (delayed emesis).
Khusus untuk cisplatin, selain ondansetron seperti ketentuan di atas, juga ditambah dexamethasone yang dilanjutkan hingga 2 hari setelah penghentian obat kemoterapi.

PENUTUP
Tata laksana muntah pada anak-anak penderita kanker yang menjalani kemoterapi sebaiknya dapat dilakukan sesuai dengan kententuan yang berlaku. Hal ini tentunya diharapkan dapat mengurangi penderitaan anak-anak tersebut sehingga mereka tetap dapat menikmati kehidupan mereka setiap harinya sekalipun menderita kanker dan harus menjalani kemoterapi.

~ by Dr Heru Noviat Herdata SpA on 12/09/2008.

2 Responses to “Tata Laksana Muntah Bagi Anak yang Menjalani Kemoterapi”

  1. apakah prosedur pemberian obat ini juga berlaku pada pasien kanker dewasa, usia 30 tahun yang sedang menjalani kemoterapi? apakah obat-obatannya juga sama?
    terima kasih

  2. Thank you dok, L.O. (Learning Objective) Tutorial FKku berjalan lancar berkat dokter ^^… I love this blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: